Minggu, 18 Maret 2012

Perkembangan Teknologi Dalam Bidang Militer


Teknologi Canggih Karya Anak Bangsa Indonesia

Kemampuan anak bangsa Indonesia untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi komunikasi informasi sebenarnya tidak kalah hebat dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk negara maju sekalipun.
Di berbagai pelosok Indonesia, banyak sekali kemampuan yang terus dikembangkan tanpa banyak promosi, menghadirkan berbagai solusi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh berbagai perusahaan ataupun lembaga pemerintahan. Persoalannya, sering kali kemampuan anak bangsa ini tidak pernah memperoleh tempat yang memadai dan diakui oleh anak bangsa lain yang kebetulan menjadi pengambil keputusan di tingkat perusahaan ataupun pemerintahan. Atau, karena keteguhan hati untuk berbisnis secara lurus dan legal, sering kali mereka tersingkir dalam tender karena kalah dalam “uang jago” dan berbagai faktor penyimpangan kronis lain dalam cara berbisnis yang sarat dengan korupsi dan kolusi yang berkepanjangan. Bahkan, untuk menjadi berbeda di tengah globalisasi dan dinamika kemajuan teknologi komunikasi informasi, di Indonesia dianggap sebagai sebuah keanehan. Kebanyakan orang condong untuk bersikap konservatif dan dalam konteks pengembangan perangkat lunak, condong untuk mengikuti arus yang dianggap sebagai kebutuhan umum dengan mengembangkan berbagai aplikasi sejenis enterprise resource planning (ERP), customer relationship management (CRM), dan lainnya. Artinya, sedikit sekali rumah perangkat lunak (software house atau sering juga disebut sebagai independent software vendor) yang berani menyimpang untuk menghasilkan produk perangkat lunak yang tidak umum dan lazim, dan tidak melulu hanya mengembangkannya mengikuti arus bisnis yang berlaku di lingkungan sekitarnya. Penyimpangan sendiri sering kali memang menjadi tantangan yang menarik. Di sisi lain, penyimpangan dari apa yang berlaku pun mampu menghasilkan produk-produk yang istimewa, memberikan solusi komprehensif bagi penggunanya, serta menjadi produk istimewa hasil karya anak bangsa yang membanggakan.

Teknologi keputusan

Menjadi berbeda merupakan tantangan tersendiri bagi Infoglobal Group yang dimulai sebagai software house di Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Sebagai kelompok, perusahaan perangkat lunak yang asli Indonesia dikembangkan oleh anak bangsa ini memiliki tiga perusahaan, masing-masing PT Infoglobal AutOptima (IAO), PT Infoglobal Teknologi Semesta, dan PT Global Performa Maksima. Kelompok pengembang perangkat lunak ini dimulai dengan didirikannya IOA pada tahun 1990 oleh sekelompok alumni dan pengajar Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) yang berpusat di Surabaya. Perusahaan yang didirikan ini dikembangkan untuk menjadi pengembang perangkat lunak sebagai solusi teknologi informasi serta mengarah agar produknya menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai decision technology. Bahtiar H Suhesta, Corporate Secretary Infoglobal Group, kepada Kompas di Surabaya menjelaskan bahwa tiga kata singkatan perusahaan, IAO, yang terdiri dari informasi, otomatisasi (automation), dan optimisasi menjadi roh mengembangkan produk perangkat lunak yang dipercaya akan mengarah pada era di mana pengambilan keputusan akan dilakukan dengan menggunakan teknologi. Selama ini IAO berhasil mengembangkan berbagai aplikasi perangkat lunak untuk berbagai kebutuhan di sektor energi, pertambangan, dan militer. Setidaknya, ada empat aplikasi yang dibuat dan dikembangkan menjadi sebuah sistem yang andal, masing-masing terdiri dari SIL2004.sebagai sistem informasi pelanggan untuk keperluan PT PLN, sistem berbasis web untuk meningkatkan produktivitas perusahaan minyak dan gas di bawah PT Global Performa Maksima, SOYUS sebagai sistem simulasi pertempuran udara, serta TDAS sebagai sistem transmisi situasi data udara.Pengembangan perangkat lunak SOYUS (awalnya merupakan singkatan Sistem Olah Yudha untuk Seskoau) dan TDAS (Transmission Data Air Situation) adalah produk paling canggih dan bernuansa teknologi tinggi (hi-tech) yang dibangun menggunakan teknologi kelas perusahaan berbasis teknologi .Net buatan Microsoft serta memanfaatkan sistem DirectX secara ekstensif untuk keperluan simulasi grafik berbasis tiga dimensi. Pada sistem solusi decision technology TDAS yang sudah digunakan oleh Komando Pertahanan Udara, IAO mampu untuk menggabungkan infrastruktur sistem radar militer dan sipil yang tersebar di seluruh Indonesia, serta menghasilkannya menjadi tampilan wilayah udara Indonesia secara terintegrasi. Artinya, sistem aplikasi berbasis decision technology ini mampu memberikan situasi sebenarnya wilayah udara nasional Indonesia dan mendeteksi terjadinya penyusupan udara oleh pesawat-pesawat asing. Bahkan, sistem ini pun mampu menyimulasi jalur pacu sebuah pesawat terbang yang berada di wilayah Indonesia sehingga pada situasi khusus, seperti kecelakaan dan sejenisnya, mampu ditampilkan ulang untuk kepentingan evaluasi dan simulasi. Aplikasi canggih lainnya buatan IAO adalah SOYUS yang dirancang untuk keperluan Sekolah Staf dan Komando TNI AU (Seskoau) sebagai sebuah sistem war gaming yang terintegrasi dan waktu sesungguhnya (real time), memungkinkan para perwira TNI AU melakukan perencanaan dan komando pada tingkat strategis, taktis, dan operasional. Aplikasi SOYUS memiliki sistem manajemen data perlengkapan angkatan udara, kemampuan supervisi, kemampuan perencanaan operasi, serta bersifat dinamis melakukan berbagai kalkulasi rumit sebuah serangan udara. Dikembangkan selama dua tahun dan menghabiskan biaya sekitar Rp 1 miliar, SOYUS adalah sistem tercanggih yang bisa jadi menjadi sebuah permainan simulasi online game yang setara dengan Counter Strike ataupun Ragnarok. Aplikasi SOYUS ini juga bisa melibatkan berbagai kekuatan militer (laut, udara, dan darat) ke dalam sistem olah yudha ini, dan selama ini hanya dikembangkan oleh lima programmer. Kedua sistem ini, TDAS dan SOYUS, membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia juga bisa mengembangkan sistem aplikasi dengan kualitas dunia yang perlu didukung sepenuhnya oleh siapa saja.
Antisipasi Menghadapi Perang Modern
“Asymmetrical Warfare”
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah dijadikan grand strategy oleh sejumlah negara untuk membangun kekuatan tempurnya. Pemanfaatan unsur informasi menyebabkan terbukanya peluang terjadinya perang informasi atau information warfare di masa yang akan datang. Untuk mengantisipasi menghadapi perang informasi, Mabes TNI melaksanakan seminar sehari tentang C4ISR (Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Survellance &Reconaisence) di Gedung Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap.
Menurut Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto, pertempuran informasi dengan penguasaan informasi sebagai bagian dari asimmetrical warfare dianggap banyak ahli strategi perang sebagai kiat persiapan perang berbiaya rendah dengan dampak yang sangat luas. Kiat pengumpulan data dan informasi menjadi penting, curi mencuri informasi kemudian merupakan hal yang pasti. Kemampuan untuk dapat menjaga data dan informasi menjadi sangat mutlak, sama mutlaknya dengan kebutuhan untuk mengacaukan system informasi lawan dengan cara menyusup data dan informasi salah.
Menghadapi kecenderungan ini, TNI harus mulai berpikir dan mengambil tindakan antisipasi yang pasti, bukan hanya terhadap potensi ancaman perang secara tradisional tetapi juga mengantisipasi kemungkinan penggelaran perang modern yang mengacu pada gaya asymmetrical warfare khususnya melalui kiat perang informasi yang datangnya kerap tidak bisa dilihat atau dirasakan kecuali setelah menimbulkan kerugian yang pasti. Ancaman permanen atas keutuhan wilayah kedaulatan NKRI seperti pada penggeseran patok batas wilayah kedaulatan dan persengketaan tapal batas hingga penguasaan/pendudukan wilayah secara illegal, penyusupan manusia dan ideologi asing, penyelundupan uang, bahan peledak dan senjata, pengacau keamanan melalui kiat lintas batas negara termasuk aktifitas terorisme serta kebocoran rahasia penting negara adalah bagian dari hal-hal yang secara langsung harus ditangani lebih serius. Kegiatan perang informasi yang digelar lawan, dapat menyebabkan misalnya, pergeseran patok-patok batas wilayah NKRI tidak dilakukan oleh negara asing, tetapi oleh warga negara sendiri yang sudah terkecohkan oleh informasi salah satu melalui kiat operasi psikologi. Contoh lain penyelundupan uang untuk melancarkan suatu operasi social engineering melalui media elektronik adalah hal kini sangat dimungkinkan.
Saat ini menurut Panglima TNI makin terasa bahwa dalam konteks pelaksanaan tugas, peran dan tanggung jawab insan dan institusi TNI dalam kegiatan pertahanan hingga pelaksanaan operasi-operasi militer, sangat membutuhkan suatu peningkatan kapasitas dan kapabilitas di bidang sarana dan prasarana termasuk SDM, khususnya dibidang yang berkaitan dengan kiat-kiat intelijen.
Untuk itu, SDM kita harus bisa mengantisipasi, mengikuti dan mengimbangi secara taktis perkembangan dan pertumbuhan teknologi intelijen yang semakin pesat dan modern. Bukan satu hal yang aneh bila SDM TNI perlu dilatih untuk dapat mempelajari kemampuan fasilitas tempur lawan dalam suatu misi militer dan menggunakannya untuk menghancurkan lawan. Inilah sebabnya, perhatian terhadap fasilitas alut sista dan kesiapan SDM khususnya yang berkenaan dengan peralatan dan optimalisasi pemanfaatan fasilitas K3I yang saat ini masih dijadikan salah satu andalan sistem pertahapan TNI, perlu diprioritaskan dan disiasati dengan tepat dan benar sehingga bisa menunjukkan potensi manfaat yang pasti, dimana selanjutnya harus mampu memunculkan deterrence factor yang baru.
Fasilitas K3I yang sudah ada saat ini secara bertahap harus ditingkatkan menjadi C41SR (Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Surveillance & Resonance) dan dikemudian hari bisa ditingkatkan lagi menjadi architecture framework system yang lengkap dan berdaya. Kebutuhan peningkatan ini muncul bukan hanya dari antisipasi terhadap faktor ancaman di depan, akan tetapi untuk mengantisipasi perubahan teknologi yang tidak bisa dihindari, dimana sekali waktu sistem yang masih dipergunakan TNI saat ini tidak lagi dapat diperbaiki atau diperbaharui karena sudah tidak lagi dibuat oleh pabriknya dan sudah terlalu kuno yang tentunya akan menjadi kendala tersendiri.
Fasilitas-fasilitas TNI saat ini seperti ; Surveillance and Reconnaissance System, Special Target Movement Monitoring System, Terrestrial Border Monitoring Systems, dan UAV, masih bisa ditingkatkan dengan fasilitas tambahan seperti Unmanned Operated Surveillance and Reconnaissance System, maritime Un-manned Vehicle hingga Robotic Operation System yang disebut-sebut sebagai The Future Combat System. Namun terlepas dari peran masing-masing instumen dimaksud, saat ini dibutuhkan kemampuan pengintegrasian sistem-sistem yang telah dimiliki TNI secara tepat dan benar.
Pengembangan dan peningkatan pemberdayaan system K3I dalam lingkungan Mabes TNI yang telah ada saat ini menjadi sistem C4ISR berbasis jaringan terpusat (network centric), perlu untuk direncanakan dengan baik. Pemanfaatannya dikemudian hari harus bisa memungkinkan dilakukannya kegiatan yang tidak terbatas hanya pada komando, control, komunikasi dan intelijen saja, akan tetapi lebih jauh memastikan terjadinya kemampuan koordinasi serta peningkatan kinerja intelijen yang boleh jadi ditambah pemanfaatan system Surveillance and Reconnaisancenya secara real time.
Sementara menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, bidang TIK baik pengembangan maupun pemanfaatannya mempunyai peran penting dalam pembangunan suatu negara. Sektor TIK, selain menawarkan berbagai peluang untuk menciptakan nilai tambah di sektornya, juga merupakan “enabler” di semua sektor lainnya, yang langsung berpengaruh pada tingkat daya saing suatu negara, termasuk didalamnya daya saing pada sektor pertahanan dan keamanan.
Menyadari luasnya dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan bidang informasi dan komunikasi, sudah sewajarnya setiap negara termasuk Indonesia perlu menyiapkan masyarakatnya untuk mampu menghadapi pergeseran ini serta memanfaatkan berbagai peluang dan siap menghadapi berbagai ancaman baru yang muncul dari perkembangan ini.
Kecepatan bertindak serta keputusan berdasarkan data akurat kian menjadi unsur penting dan signifikan dalam membangun suatu sistem Hankam di saat ini dan dimasa mendatang. Dipihak lain, jumlah data dan informasi yang perlu dilibatkan dalam suatu keputusan menjadi kian besar dan kompleks. Menghadapi dua kenyataan ini, berbagai negara saat ini berlomba-lomba ingin membangun suatu sistem C4ISR (Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Surveillance & Reconnaisance) yang terintegrasi dengan memanfaatkan TIK(Teknologi Informasi Komputer)
Dengan TIK yang berkembang saat ini, suatu jaringan sistem intelligence, surveillance & reconnaissance, dapat dengan mudah dapat mengirimkan berbagai informasi secara digital dan real time ke berbagai unit lainnya untuk mendapatkan keputusan lebih lanjut dengan cepat dan akurat, jelas Kusmayanto.
Konvergensi yang terjadi di sektor TIK dapat dimanfaatkan untuk membangun suatu sistem C4ISR secara nasional yang terintegrasi secara luas dari mulai sistem sensor paling depan, sistem pengolahan, sistem pengendalian sampai dengan sistem persenjataannya, untuk menjawab berbagai kebutuhan yang muncul baik saat ini maupun dimasa mendatang.
Dalam bidang pertahanan keamanan menurut Menristek, dapat dikategorikan sebagai suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara-cara berfikir yang tidak lazim dan diluar aturan-aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup seluruh aspek. Pilihan ini sebagai dasar untuk mengembangkan strategi keamanan nasional dan tanpa diimbangi dengan pengembangan kekuatan non phisik akan menghadapi resiko kehancuran terhadap ancaman asimetri [asymmetric threat].
Dengan meningkatnya berbagai peluang sekaligus ancaman di era globalisasi ini, sudah sewajarnya Indonesia menikatnya kemampuan untuk menjaga pertahanan dan keamanannya dengan membangun system yang handal dan terintegrasi memanfaatkan berbagai teknologi yang tersedia untuk menjawab berbagai kebutuhan yang dihadapi, antara lain untuk mengatasi :
  1. Penangkapan ikan dan penebangan kayu illegal.
  2. Early warning system menghadapi bencana alam dan ancaman
  3. Maritime surveillance.
  4. Ancaman terhadap daerah perbatasan dan lain-lain.

Tanpa usaha untuk membangun sistem terintegrasi demikian, kemampuan untuk mengatasi ancaman terhadap berbagai kegiatan pembangunan akan kian melemah, yang tentunya akan berakibat pada lemahnya daya saing Indonesia dalam menghadapi kompetisi di era global saat ini.
Perlu disadari bahwa pembelajaran teknologi tidak berlangsung di ruang hampa dan otomatis tapi membutuhkan kesadaran dan kemauan kuat serta terkait erat dengan sistem insentif yang memacu semua pelaku untuk melakukan pembelajaran teknologi. Kesemuannya ini menyangkut aspek perluasan industri, pengembangan kemampuan SDM, pengokohan system inovasi serta penciptaan lingkungan bisnis yang kompetitif.
Kepakaran, keahlian serta kreatifitas yang dikembangkan oleh LPND, perguruan tinggi serta berbagai institusi litbang haruslah dapat dimanfaatkan oleh sektor Hankam sebagai suatu kekuatan dalam mengembangkan berbagai sistem yang dibutuhkan. Dan sebaliknya pengalaman dan kemampuan di lingkungan Hankam haruslah dapat dimanfaatkan oleh seluruh institusi litbang untuk meningkatkan kemampuannya.
Sedang menurut Asops Kasum TNI Mayjen TNI Bambang Darmono, untuk membangun kekuatan TNI dimasa mendatang harus mempertimbangkan perkembangan teknologi informasi. Untuk kepentingan militer seperti Kodal, intelijen, pengintaian dan pengamatan, bentuk platform persenjataan telah memanfaatkan teknologi informasi baik teknologi telekomunikasi maupun teknologi computer. Hal ini perlu diantisipasi dalam rangka menghadapi perang informasi pada masa ini dan masa mendatang. Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagian integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dengan demikian setiap langkah yang diambil harus ditujukan untuk mencapai keunggulan informasi. Kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadinya pergeseran konsep memenangkan perang. Pada awalnya, cukup dengan konsep Komando dan Kendali (Kodal/K2), yang pada prinsipnya merupakan hubungan intern antara komandan dengan anak buahnya dalam tugas operasi. Dan dalam perkembangan selanjutnya, komunikasi dengan kesatuan lain dalam operasi menjadi suatu keharusan. Maka lahirlah konsep baru yaitu Komando, Kendali, Komunikasi dan Informasi (K3I). di era 90-an, dengan kemajuan teknologi computer lahirlah konsep baru berupa Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengamatan dan Pengintaian (K4IPP). Meskipun di Indonesia, K4IPP masih menjadi angan-angan, tetapi paling tidak sudah menyiratkan adanya suatu pandangan bahwa sistem informasi yang berbasiskan computer menjadi fungsi yang sangat penting dalam peperangan, jelas Bambang Darmono.
Pembangunan kekuatan TNI baik matra darat, laut dan udara, harus direncanakan secara terarah dan berlanjut baik dalam renstra jangka menengah maupun jangka panjang yang diharapkan mampu untuk menghadapi segala ancaman yang timbul baik ancaman militer maupun nonmiliter yang datang dari dalam maupun dari luar negeri. Oleh karena itu pembangunan kekuatan TNI harus dipertimbangan perkembangan lingkungan strategis dan perkiraan ancaman yang mungkin terjadi.
Kemajuan Teknologi Informasi (TI) membawa dampak yang sangat luas bagi kehidupan masyarakat saat ini. Yaitu dapat merubah cara berorganisasi, merubah cara perdagangan antar perusahaan, mengubah cara pemerintahan dan negara bahkan mengubah cara untuk berperang.
Penggunaan TI dalam sistem informasi modern memaksa pihak militer untuk meninjau kembali doktrinnya, sebab perkembangan teknologi informasi membawa perubahan mendasar bagi kepentingan intelijen, sistem pengintaian dan pengamatan, sistem komando dan kendali sehingga pola penataan strategis perangkat perang dalam perang modern perlu disesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi tersebut.
Pemanfaatan teknologi informasi diberbagai kehidupan, khususnya dibidang militer perlu diantisipasi perkembangannya karena disatu sisi dapat membawa dampak untuk kebaikan tapi disisi lain berdampak untuk pengrusakan. Konsep-konsep pengrusakan pada sistem informasi inilah kemudian berkembang untuk dijadikan dasar bagi kepentingan perang informasi. Munculnya perang informasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi, karena sifat penggunaan sistem secara bersama (sharing), sehingga memungkinkan pihak-pihak yang tidak berkompeten pada suatu sistem dapat melakukan akses ke pihak lain tanpa mengalami kendala. Seperti diketahui teknologi informasi merupakan perpaduan dari teknologi telekomunikasi dan computer. Dengan perkembangan kedua teknologi tersebut memungkinkan orang dapat berinteraksi dari satu tempat ke tempat lain tidak perlu melihat batasan wilayah ataupun negara. Permasalahan muncul ketika pemanfaatan teknologi tersebut digunakan untuk kepentingan yang tidak pada semestinya (diselewengkan) seperti pencurian data, perusahaan data bahkan penghilangan data milik orang lain.
Dewasa ini hampir seluruh sistem yang digunakan untuk kepentingan militer seperti komando dan kendali, intelijen, pengintaian dan pengamatan, bentuk platform persenjataan telah telah memanfaatkan kedua teknologi tersebut. Tentunya untuk menjaga faktor keamanan pada sistem tersebut perlu ada upaya untuk melindunginya terhadap pihak-pihak yang berupaya untuk mengacaukan sistem tersebut. Konsep perlindungan sistem perlu ditempuh mengingat sistem tersebut selain membentuk suatu jaringan juga memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang rawan terhadap gangguan penyadapan dan pengrusakan data pada saat terjadi proses interaksi. Mengingat lompatan kemajuan teknologi informasi demikian pesatnya, maka perkembangan kedua teknologi perlu disimak secara seksama sebagai bahan antisipasi dalam menghadapi perang informasi pada abad ini.
Penguasaan perang informasi bagi suatu angkatan bersenjata mutlak diperlukan mengingat perang dimasa mendatang akan didominasi oleh strategi, teknik dan taktik pemanfaatan Perang Informasi. Seperti ada pepatah Siapa yang mengusai informasi, dialah yang akan mengusai dunia, tambah Asops Kasum TNI.
Perang modern. Perang dimasa kini dan dimasa mendatang merupakan perang modern yang cepat dan mematikan. Hal ini diperlukan kepekaan dan kecepatan dalam komando dan pengendalian. Pada era perang modern dituntut suatu pertahanan yang mendekati waktu nyata (real time) atas keadaan taktis dan mampu mengkomunikasikan secara on line ke seluruh unsur kekuatan pertahanan nasional yang ada. Perang modern juga menuntut suatu kesatuan komando yang jelas dan tertata rapi, dimana Panglima Tertinggi pemegang otoritas pertahanan harus dapat mengetahui situasi yang berlaku serta dapat mengambil keputusan secara tepat dalam waktu singkat.
Hal yang terpenting dari sistem K4IPP yaitu memberikan informasi situasional kepada pimpinan tentang lokasi dan status dari kekuatan musuh dan kekuatan kita yang perlu mendapatkan perhatian.
a. Kemampuan dari K4IPP. Kemampuan dari sistem K4IPP terdiri atas :
  1. Situational Awareness. Situasi dimana seluruh informasi unsur-unsur kekuatan sendiri berada pada lokasi tertentu dan data statusnya serta kedudukan musuh berada,
  2. Information Superriority. Informasi merupakan aset yang strategis bagi setiap organisasi. Inilah yang menyebabkan kegagalan khususnya dalam bidang pertahanan, sehingga kemampuan untuk menyediakan informasi potensial merupakan faktor yang sangat menentukan dari kekuatan pertahanan suatu negara. Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagian integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dengan demikian maka setiap langkah yang diambil ditujukan untuk mencapai keunggulan informasi. b. Penggunaan Sistem K4IPP. Sistem K4IPP dipergunakan bagi pimpinan sebagai sistem komando dan pengendalian secara global, kontijensi sistem perencanaan daerah militer, sistem komando gabungan maritim dan sistem manuver.
Aplikasi K4IPP (C4ISR) dalam Medan Pertempuran. C4ISR adalah singkatan dari Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconaissance. Komando dan kendali lebih menjurus pada pembuat keputusan bersifat arahan yang dilaksanakan oleh komandan guna mengatur gerak pasukannya dalam menyelesaikan misi. Peran itu didukung oleh teknologi informasi dimana computer komunikasi merupakan bagian dari C4ISR. Sistem C4ISR menyediakan kemampuan utama untuk mewujudkan situasi kesiapan komando yaitu informasi mengenai kedudukan dan kekuatan pasukan musuh dan pasukan sendiri. Oleh karenanya, C4ISR menjadi komponen yang praktis dan diperlukan untuk mencapai keunggulan ketika keputusan dibuat.
Menurut Penasehat Panglima TNI Bidang K4ISR Dr.Yono Reksoprodjo, ST.DIC, perang informasi atau information warfare adalah serangkaian kegiatan pemanfaatan dan pengaturan dari suatu informasi yang dipergunakan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif atas lawan. Hal-hal yang berkaitan dalam bentuk data dan informasi secara kolektif, upaya memastikan keabsahan suatu data atau informasi, penyebaran informasi propaganda dan informasi fitnah atas lawan, dengan tujuan untuk melemahkan kekuatan musuh hingga pencegahan atau penolakan keperluan pertukaran informasi musuh adalah kiat-kiat yang dimasukkan ke dalam kegiatan perang informasi. Bentuk-bentuk nyatanya adalah semacam kiat upaya pemanfaatan komunikasi pertukaran informasi yang dapat berakibat terpengaruhnya suatu sikap, terjadinya suatu penyangkalan atau perlindungan, suatu bentuk penipuan, atau pun suatu bentuk eksploitasi hingga penyerangan.
Informasi Saat Perang atau Information In Warfare yang juga dikenal dengan sebutan Battle Field Warfare adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan kepentingan mendapatkan dan menyampaikan data dan informasi disaat terjadinya pertempuran.
Hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan ini biasanya mencakup kiat-kiat operasi Surveillance, Reconnaissance, Intelligence, dan hal-hal yang berkaitan langsung dalam suatu pertempuran termasuk didalamnya kegiatan pemantauan dan peramalan cuaca, strategi logistik, kondisi geografis, hingga kiat upaya pelancaran suatu bentuk perang informasi.
Lepas dari segala kemiripan dari istilahnya masing-masing, benang merah yang dapat ditarik dari semuanya adalah digunakannya “informasi” sebagai amunisi dan senjata utama untuk mencapai tujuan memenangkan pertempuran atau lebih jauh lagi suatu peperangan, dan kunci utama dari keberhasilannya terletak dari kiat pengusaan dan pengaturan dari informasi tersebut. Disinilah kemudian letak pentingnya suatu operasi informasi atau juga dikenal sebagai Operation Information, yaitu rangkaian dari kiat-kiat taktis pemanfaatan dan atau manipulasi data serta informasi melalui media atau jaringan dan infrastruktur sistem informasi.
Dr. Yono Reksoprodjo SI.DIC mendefinisikan Information Warfare (IW) atau Perang Informasi dalam tiga cakupan. Pertama, segala bentuk penyerangan terhadap fungsi-fungsi informasi, tidak peduli bagaimana caranya. Melakukan perusakan misalnya pada fasilitas piranti lunak switching telpon publik sudah dapat dikatagorikan sebagai perang informasi. Kedua, setiap upaya dalam menjaga fungsi-fungsi informasi, tidak perduli apapun caranya, terhadap potensi penyerangan, misalnya untuk pencegahan virus computer, sudah bisa dikatagorikan sebagai perang informasi. Ketiga, perang informasi adalah upaya dan bukan hasil seperti juga pengertian akan perang laut, yang bukan berupa hasil tetapi serangkaian langkah-langkah taktis. Karenanya, perang informasi adalah juga upaya untuk melaksanakan siasat penyerangan dan penjagaan yang serupa dengan perang laut dimana dilaksanakan juga kiat siasat penyerangan dan penjagaan yang taktis.
Pengertian akan Information Inf Warfare (IIW) atau Informasi Saat Perang adalah serangkaian kiat militer yang berkenaan kegiatan Intelligence, Surveillance and Reconnaisance (ISR), Ketetapan Posisi dan Navigasi, Operasi Cuaca, Operasi Hubungan Kemasyarakatan, serta berbagai kegiatan saat pertempuran seperti Combat Camera Operation dan sebagainya. Inti dari IIW adalah hal-hal yang bersifat taktis namun berpengaruh terhadap kesuksesan misi-misi strategis. Kini pengertian tentang IIW telah diadopsi oleh kepentingan sipil khususnya dalam kinerja bisnis sehari-hari. Hal ini juga telah merancukan pemakaian fasilitas-fasilitas sekaligus lintas disipliner. Pada kenyataannya, berbagai kinerja Perang Informasi yang berkenaan dengan IIW, sering dilakukan di bawah seragam masyarakat sipil.
Pengertian akan Information Operation atau Operasi Informasi adalah kegiatan yang ditujukan untuk menggelar perlawanan dengan memanfaatkan data dan informasi ataupun sistem serta jaringan informasi. Nilai sukses dari suatu operasi militer tergantung pada kiat mendapatkan dan menyusun informasi berharga termasuk mencegah perlawanan dengan cara sebaliknya. Suatu Institusi Militer bertanggung jawab untuk melaksanakan kiat pertahanan dan penyerangan melalui serangkaian Operasi Informasi.
Tanggung jawab ini termasuk tindakan menjaga informasi atas apa yang boleh dan tidak boleh keluar serta secara agresif berkemampuan untuk menyerang fasilitas system informasi lawanan untuk tujuan pre-emptive atau untuk suatu perlawanan. Bentuk-bentuk bagian dari Operasi Informasi antara lain kamuflase, operasi psikologi, operasi khusus, operasi jaringan komputer, perang elektronika.
Berbagai sumber baik insan sipil maupun militer dapat menjadi sumber ancaman karena mereka dapat melaksanakan perang informasi antara dengan melaksanakan unauthorized users, seperti Hackers, melakukan penyerangan atas system informasi walau disaat damai. Bermula dari penyerangan terhadap personal computers, namun belakangan meningkat ke jaringan dan computer terpusat. Insiders, individual yang memiliki hak akses masuk ke sistem, menimbulkan kesulitan yang sangat menyulitkan khususnya dalam memilih mana yang musti diamankan. Insiders bisa berupa karyawan tetap bisa bukan atau hanya seolah sebagai karyawan tetap. Insiders bisa menyerang system setiap saat dan setiap sudut selama ia berada di dalam instalasi atau jaringan. Hal ini mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas rancang bangun, produksi, transportasi dan jadwal perawatan setiap sarana dan prasarana termasuk bagaimana dan siapa yang melakukan pembangunannya. Terrorisme meningkatkan melalui fasilitas system informasi komersial yang tidak khusus. Tindakan mereka mencakup kiat hacking melalui kinerja destruktif atau infrastruktur strategis. Kegiatan para teroris telah dipantau memanfaatkan computer bulletin boards untuk bertukar informasi intelijen dan data teknis di atas batas wilayah internasional. Non-state groups (the New Warrior Class”) telah mengambil keuntungan dari berbagai kesempatan yang tersedia di era Information Age. Mereka selalu mendapatkan jalan mendapatkan cara-cara memanfaatkan mulai akses komersial hingga secured communication infrastructures, dari suatu tempat yang aman bagi mereka yang bisa jadi tempat itu adalah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain melakukan penyerangan terhadap lawan diluar medan tempur, kelompok ini juga pandai memanfaatkan international news media dalam mempengaruhi opini publik dunia serta membentukan suatu persepsi mengenai suatu konflik atau justru memulai terbentuknya konflik baru. Foreign intelligence services bergerak sangat aktif menjalankan Operasi Informasi khususnya dimasa damai. Mengambil keuntungan dari anonymity yang diberikan sebagai kemudahan pada fasilitas computer bulletin boards. Mereka biasanya menyembunyikan kegiatannya dengan seolah hal-hal tersebut dilakukan oleh hacker biasa. Banyak ulah mereka yang tidak langsung menyerang pertahanan militer, tetapi dilakukan atas institusi komersial atau lembaga ilmu pengetahuan dengan tujuan penguasaan kemampuan kinerja ekonomi suatu negara. Adversary activities atau kegiatan perlawanan, adalah satu hal yang kerap diasosiasikan dengan model perang tradisional yang lebih bersifat terbuka, tetapi disini kemampuan melakukan manipulasi terhadap pusat-pusat berita dimasa damai mempertegas adanya suatu situasi yang cenderung meningkat bahaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar